LATAR BELAKANG BERDIRI PERUSAHAAN

CV. LUMADA bitha SUKSES berdiri berdasarkan pengalaman pendiri telah melakukan bidang usaha Trading dan Industri sejak tahun 2004 atas nama PT. Mulia Garmindo, Ropiko Lestari, dan bidang mining sejak tahun 2003 bergabung dengan CV. Kencana Sakti serta mengembangkan bidang SDM sejak 2003 dengan nama PT. Cahaya Arini Indah yang berkembang dan sangat dikenal oleh para klien karena memang pengalaman pendiri sebelumnya sebagai Manager HRD lebih dari 12 tahun diberbagai jenis perusahaan. Berdasarkan hal tersebut pendiri membuat nama perusahaan yang dinamakan CV. LUMADA bitha SUKSES yang membidangi sesuai pengalaman pendiri. Adapun arti daripada LUMADA bitha SUKSES adalah : LU MAu apa aDA BIsa teTapi HArus SUKSES yang meliputi :
Bidang GENERAL TRADING
MINING Trading Hasil Tambang - (001) - Batubara - (002) - Batu Mangan - (003) - Batu Besi - (004) - Mineral lainnya sesuai kebutuhan. AGRO BUSINESS Trading - (001) - Pinang - (002) - Coklat - (003) - dan lainnya sesuai kebutuhan. PUPUK CAIR Trading - (001) - Pupuk Organik BioTOP seperti BioTOP POP untuk Tanaman Lunak dan - (002) - BioTOP SAWIT untuk Tanaman Keras.
Bidang CHEMICALS
Meliputi : - (001) - Soda Ash Ansac Dense (Na2CO3) atau Sodium Carbonate America (USA) - (002) - Kaporit (CaOCl)2 atau Calcium Hypochlorite 60% Tjiwi - (003) - Kaporit (CaOCl)2 atau Calcium Hypochlorite 65% Tjiwi - (004) - Kaporit 65% (CaOCl)2 Powder Trichlon CP 65 China - (005) - Kaporit 90% (CaOCl)2 Tablet Triklorit 90 China - (006) - Kaporit 90% (CaOCl)2 Granulir Triklorit 90 China - (007) - Alumunium Sulfat Solid (Al2SO4) Bongkah 17% - (008) - Alumunium Sulfat Solid (Al2SO4) Granulir 17% - (009) - Alumunium Sulfat Solid (Al2SO4) Powder 17% - (010) - Alumunium Sulfat Solid (Al2SO4) Kible 17% - (011) - Alumunium Sulfat (Al2SO4) Liquid 12% - (012) - Alumunium Sulfat (Al2SO4) Liquid 10% - (013) - Alumunium Sulfat (Al2SO4) Liquid 8% - (014) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 14% - (015) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 12% - (016) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 10% - (017) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 8% - (018) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 250A Pacinesia - (019) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Liquid 280AC Pacinesia - (020) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Powder 250AN Pacinesia - (021) - Poly Alumunium Chloride Pacinesia 280AN - (022) - Poly Alumunium Chloride (PAC) 250AD - (023) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Powder Yellowish China - (024) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Powder Roller China - (025) - Poly Alumunium Chloride (PAC) Powder Spray China - (026) - Caustic Soda (NaOH) atau Sodium Hydroksida Liquid 48% - (027) - Caustic Soda (NaOH) atau Sodium Hydroksida Flake 98% Asahimas - (028) - Caustic Soda (NaOH) atau Sodium Hydroksida Flake 98% Tjiwi - (029) - Caustic Soda (NaOH) Micropearls atau Sodium Hydroksida 99% - (030) - Caustic Soda (NaOH) Micropearls atau Sodium Hydroksida 99% Thailand - (031) - Hydrochloric Acid (HCl) atau Asam Klorida 32% - (032) - Sodium Hypochlorite (NaOCl) 10-12% - (033) - Kianchem 116 (Al2O3) Liquid 7,5% - (034) - Kianchem 03 MC (Al2O3) Liquid 3% - (035) - Specta - (036) - Asam Sulfat (H2SO4) atau Sulphuric Acid 98% - (037) - Nitric Acid atau Asam Nitric (HNO3) 68% Belgia - (038) - Nitric Acid atau Asam Nitric (HNO3) 68% Korea - (039) - Acetid Acid atau Asam Asetat (C2SO4) Lokal - (040) - Acetid Acid atau Asam Asetat (C2SO4) USA - (041) - Formic Acid atau Asam Semut (CH2O2) 85% Kemira Belanda - (042) - Formic Acid atau Asam Semut (CH2O2) 94% Kemira Belanda - (043) - Glycerine atau Glycerol (C3H803) Lokal - (044) - Phosporic Acid atau Asam Fosfat (H3PO4) China - (045) - Phosporic Acid atau Asam Fosfat (H3PO4) Food Grade China - (046) - Pottasium Hydroxida atau Kalium Hydroksida (KOH) 90% China - (047) - Pottasium Hydroxida atau Kalium Hydroksida (KOH) 90% Korea - (048) - STTP China - (049) - Ammonium Chloride (NH4Cl) China - (050) - Zinc atau Ingot Anoda - (033) - Pottasium Permanganate BP 2000 China - (052) - Hydroflouride Acid 55 PCT Min China - (053) - Manganese Sulphate 98 PCT Min China - (054) - Ferric Chloride 98 PCT Min China - 055) - Magnesium Oxide India - (056) - Silica Gel White China - (057) - Silica Gel Blue China - (058) - Mercury 99,999 PCT Min Spain - (059) - Mercury 99,999 PCT Min USA - (060) - Alkohol 96 % (Tehnical Grade) - (061) - Polishing Powder 1x Super Quality Italy - (062) - Polishing Powder SP Super Quality Italy - (063) - Polishing Powder 5 Extra Super Quality Italy - (064) - Methyl Meta Acrylate (MMA) - (065) - Methacrylic Acid (MAA) - (066) - Butyl Acrylate (BA) - (067) - Acrilic Acid (AA) - (068) - 2-Ethyl Hexyl Acrylate (2EHA) - (069) - Ethyl Acrylate (EA) - (070) - Methylene Chloride - (071) - Sodium Bicarbonate 99% - (072) - Paravin Wax Semi & Fully Refined - (073) - Nickel Square 1 Inchi - (074) - Nickel Strip 60 Cm & 90 Cm - (075) - Nichel Sulphate (NiSO4) - (076) - Nickel Chloride (NiCl2) - (077) - Phos Copper Balls 27 mm - (078) - Of Copper Balls 27 mm - (079) - Copper Sulphate (CuSO4) - (080) - Chromic Acid (CrO3) - (081) - Zinc SHG - (082) - Zinc Alloy - (083) - Alumunium Alloy ADC - (084) - Coal Additive Centrum 6302 - (085) - Karbon Aktif - (086) - Sabun Cair Pembersih Tangan - (087) - Sabun Cair Pencuci Piring - (088) - Sabun Cair Pembersih Lantai - (089) - Sabun Cair Pembersih Kaca - (090) - Pembersih Porselin Lumada
Bidang TRANSPORTATION
Meliputi : Melayani angkutan Antar Pulau antar Propinsi via : - (001) - Darat - (002) - Laut - (003) - udara dengan Countener atau Truck, Kapal Laut, Dan lain - lain
Bidang MANPOWER SERVICE
Meliputi : (001) Pelatihan Membangun Kepercayaan Diri Melalui Pengembangan Sikap Mental (PMKD) - (002) - Pelatihan Sikap Mental - (003) - Konsultan SDM - (004) - Suplay tenaga kerja (Outsorcing) - (005) - Menyewakan tenaga kerja - (006) - Penyelesaian Perselesihan Perburuhan sebagai Mediasi Perusahaan
NEW PRODUCT
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

Menteri Termuda Austria Resmi Dilantik

 Menteri Termuda Austria Resmi Dilantik  
TEMPO.CO, Wina – Sebastian Kurz, Menteri Luar Negeri Austria yang baru berusia 27 tahun, akhirnya resmi dilantik pada Senin kemarin di Wina. Bersamaan dengan itu, Kanselir Austria, Werner Faymann, juga dilantik untuk kembali menjadi pemimpin negeri ini di lima tahun keduanya.

Dilaporkan Xinhua, pelantikan kabinet baru dipimpin langsung oleh Presiden Austria, Heinz Fischer di Istana Hofburg. Dalam sambutannya, ia menyerukan "kepercayaan di muka" dalam pemerintahan baru di tengah protes terhadap penutupan Kementerian Ilmu Federal dan kritik terhadap beberapa perubahan lainnya.
Selain kedua orang tersebut, dilantik pula Michael Spindelegger sebagai Menteri Keuangan. Ia berjanji untuk menyeimbangkan anggaran hingga tahun 2016.

Pemerintah baru akan menerapkan serangkaian langkah-langkah reformasi di bidang pajak, seperti menaikkan pajak tembakau dan alkohol, serta memerangi penggelapan pajak. Selain itu, pemerintah juga akan berfokus pada pensiun, serta perawatan anak dan sekolah.

Adapun Menteri Luar Negeri Austria yang baru tersebut telah begitu ramai diperbincangkan publik. Usianya yang begitu muda menempatkan dirinya sebagai menteri termuda dalam sejarah Austria dan Uni Eropa.

Kurz lahir di Wina, 27 Agustus 1986. Pada 2009, dia terpilih menjadi Ketua Pemuda Partai Rakyat Austria. Dia menjadi anggota Dewan Kota Wina periode 2010-2011. Pada April 2011, Kurz terpilih menjadi Menteri Integrasi, yang baru saja dibentuk. Dalam pemilihan umum Austria 2013, dia terpilih sebagai anggota Parlemen.

Minggu, 15 Desember 2013

Robert Budi Hartono Orang Terkaya di Indonesia



61966_NpAdvHover

Menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia selama beberapa tahun berturut-turut itulah R. Budi Hartono yang merupakan pemilik Grup Djarum, dilahirkan dengan nama lengkap Robert Budi Hartono pada tanggal 28 April 1941 di Kota Semarang, Ayahnya bernama Oei Wie Gwan pemilik usaha kecil Djarum Gramophon namanya diubah menjadi Djarum yang kelak menjadi sebuah perusahaan rokok terbesar di dunia. Robert Budi Hartono yang memiliki nama Tionghoa Oei Hwie Tjhong oleh Majalah Forbes dicaatat memiliki kekayaan sebesar 8,5 Milyar Dollar atau 82.50 Trilyun Rupiah dan merupakan Orang terkaya nomor satu selama beberapa tahun di Indonesia dan urutan 131 terkaya didunia. Semua berawal dari Mr. Oei Wie Gwan yang membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramophon pada tahun 1951 dann kemudian mengubah namanya menjadi Djarum. Oei mulai memasarkan kretek dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran.

Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963, Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya. Robert dan kakaknya yaitu Michael Budi Hartono menerima warisan ini setelah ayahnya meninggal. Pada saat itu pabrik perusahaan Djarum baru saja terbakar dan mengalami kondisi yang tidak stabil. Namun kemudian di tangan dua bersaudara Hartono, Perusahaan Djarum bisa bertumbuh menjadi perusahaan raksasa. Pada tahun 1972 Djarum mulai mengeskpor produk rokoknya ke luar negeri. Tiga tahun kemudian Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tahun 1981. Saat ini, Di Amerika Serikat pun perusahaan rokok ini memilki pangsa pasar yang besar. Dan di negeri asalnya sendiri, Indonesia, produksi Djarum mencapai 48 milyar batang pertahun atau 20% dari total produksi nasional. Seiring dengan pertumbuhannya, perusahaan rokok ini menjelma dari perusahaan rokok menjadi Group Bisnis yang berinvestasi di berbagai sektor. Djarum mereka, dilarang di Amerika Serikat sejak 2009 bersama dengan rokok kretek lainnya, karena telah diluncurkannya Dos Hermanos, sebuah cerutu premium pencampuran tembakau Brasil dan Indonesia.

Robert Budi Hartono dengan Group Djarum yang dipimpinnya pun melebarkan sayap ke banyak sektor antara lain perbankan, properti, agrobisnis, elektronik dan multimedia. Diversifikasi bisnis dan investasi yang dilakukan Group Djarum ini memperkokoh Imperium Bisnisnya yang berawal di tahun 1951. Di bidang Agribisnis, Robert bersama Michael memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektar yang terletak di provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2008. Mereka bergerak di bawah payung Hartono Plantations Indonesia, salah satu bagian dari Group Djarum. Di bidang properti, banyak proyek yang dijalankan di bawah kendali CEO Djarum ini, R. Budi Hartono, dan yang paling besar adalah mega proyek Grand Indonesia yang ditantangani pada tahun 2004 dan selesai pada tahun 2008. Proyek ini mencakup hotel (renovasi dari Hotel Indonesia), pusat belanja, gedung perkantoran 57 lantai dan apartemen. Total nilai investasinya 1,3 Triliun rupiah.

Majalah Globe Asia menyatakan Robert sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan 4,2 miliar dolar AS atau sekitar 37,8 triliun rupiah. Pada tahun yang sama, R. Budi Hartono bersama kakaknya, Michael Hartono di bawah bendera Group Djarum melebarkan investasi ke sektor perbankan. Dan mereka menjadi pemegang saham utama, menguasai 51% saham, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia saat ini. Berdasarkan data dari Bank Indonesia akhir tahun 2011 nilai aset BCA sebesar Rp 380,927 Triliun (tiga ratus delapan puluh koma sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah). BCA yang secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi di tahun 1997. Dan bukti eksistensi grup Djarum adalah gedung pencakar langit di kompleks mega proyek Grand Indonesia diberi nama Menara BCA. Karena bank BCA menjadi penyewa utamanya dari tahun 2007 hingga 2035. Dengan demikian tergabunglah lingkungan operasional dua raksasa bisnis Indonesia di tengah-tengah pusat ibukota yang menjadi bukti keberkuasaan Djarum di kancah bisnis Indonesia.

Robert Budi Hartono menikah seorang wanita bernama Widowati Hartono atau lebih akrab dengan nama Giok Hartono. Bersamanya Widowati Hartono, Pemilik PT Djarum ini memiliki tiga orang putra yang kesemuanya telah menyelesaikan pendidikan. Mereka adalah Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono. Disisi lain, Robert Budi Hartono Sangat menyukai olahraga bulutangkis yang bermula dari sekedar hobi lalu mendirikan Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum pada tahun 1969. Dari lapangan bulutangkis di tempat melinting kretek, Robert Budi Hartono menemukan talenta anak muda berbakat asli Kudus. Anak muda itu dimatanya, memiliki semangat juang yang tinggi, mental yang hebat dan fisik yang prima. Tak salah intuisinya, karena dalam kurun waktu yang tidak lama, anak itu mengharumkan nama bangsa di pentas dunia. Anak muda itu adalah Liem Swie King, yang terkenal dengan julukan “King Smash”.

Disamping itu bersama kakaknya yaitu Michael Budi Hartono, mereka menjadi pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik. Salah satu bisnis Group Djarum di sektor ini bergerak di bawah bendera Polytron yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Perusahaan Polytron ini kini juga memproduksi ponsel yang sebelumnya hanya meproduksi AC, kulkas, produk video dan audio, dan dispenser. Melalui perusahaan yang baru dibuat yakni Ventures Global Prima Digital, mereka juga membeli Kaskus, yang merupakan salah satu situs terbesar di Indonesia.

Selasa, 30 Juli 2013

Presiden jadi Bulan-bulanan Operasi Intelijen Luar? Memalukan

 Presiden jadi Bulan-bulanan Operasi Intelijen Luar? Memalukan
TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Mantan Sekretaris Militer Mayjen Purnawirawan TB Hasanuddin menyesalkan penyadapan terhadap Presiden SBY oleh pihak asing. Penyadapan yang dilakukan jika memang benar dilakukan dan kemudian bocor, dianggapnya adalah sebuah pelecehan
"Seharusnya Kepala Badan Intelijen Negara (BIN)  dan Kepala Lembaga Sandi Negara di copot saja. Masa presiden kita jadi bulan-bulanan operasi intelejen di luar negeri? Memalukan," sesal TB Hasanuddin.
Sebelumnya diberitakan penyadapan dilakukan oleh Australia terhadap aktivitas  Presiden SBY dalam pertemuan G20 di London Inggris 2009 lalu.

Ia memprediksi, penyadapan dilakukan bukanlah ingin mendapatkan data apapun dari komunikasi Presiden SBY. Akan tetapi, memang hanya menyadap kemudian dibocorkan diam-diam.
"Ini sebuah pelecehan tapi juga ada keinginan mendown grade kan SBY. Gila saja kalau habis disadap kemudian bocor. Memang kesengajaan aparat intel mereka," tegas TB Hasanuddin yang tak lain Wakil Ketua Komisi I DPR ini.

Kamis, 29 Maret 2012

Dahlan Iskan Tidur di Lantai Tanah

Laporan wartawan Tribun Jogja, Hari Susmayanti
TRIBUNNEWS.COM, KULONPROGO - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan kembali membuat kejutan. Setelah beberapa waktu lalu mengamuk di pintu tol, mantan dirut PLN tersebut menginap di salah satu rumah milik warga bernama Hadi Sumarto (60) di dusun Seworan, Desa Triharjo, Wates.
Di rumah milik Hadi ini, Dahlan bahkan tidur di atas lantai tanah hanya menggunakan tikar. Dahlan tidak merasa canggung untuk menginap di rumah milik warga ini. Dia bahkan bercengkerama dengan warga yang menunggunya sejak sore hari.
Setelah bangun tidur sekitar pukul 05.00 WIB Kamis (29/3/2012), Dahlan kemudian mengunjungi para petani yang sedang mengolah sawah dengan melewati pematang. Dia kemudian  mengajak petani untuk berbincang mengenai permasalahan yang dihadapi para petani. Dari tengah sawah, Dahlan kemudian langsung menuju ke gudang Bulog.
Kedatangan  Dahlan  ini merupakan  kunjungan kerja ke Kulonprogo. Setelah itu Dahlan melanjutkan kunjungan kerja ke universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Minggu, 26 Februari 2012

Asia's richest families


Asia's richest families
Asia's richest families
With Asia's culture of family businesses, it is no wonder that many of the region's largest companies are family firms, with members of the family taking part. A recent report on CNBC.com compiled a list of Asia's wealthiest families, with data from Wealth-X, a research firm that provides information to private banks and consulting firms.Net worth was calculated based on public and private holdings, estimated cash salaries, dividends, and all other investible assets. For each of the families in the list, at least two members play an active part in the business.
http://www.asiaone.com/static/business/gallery/111102_richestfamilies/images/pic1.jpg
10. Wang Family
Country: Taiwan
Business: Formosa Plastics Group
Estimated net worth: $8.6 billion
The Wang family are founders of Formosa Plastics Group, one of the world's largest plastic manufacturers and Taiwan's biggest diversified company. The firm is also one of the major petrochemical producers in Asia and controls more than 100 companies including hospitals and schools.
Brothers Yung-ching (pictured) and Yung-tsai Wang founded the group in 1958. Rising from modest roots with Yung-ching only having an elementary school education, the brothers turned the company into one Asia's biggest industry groups, with four major publicly listed units — Formosa Petrochemical, Formosa Plastics, Nan Ya Plastics and Formosa Chemicals & Fibre. Both brothers retired from their official posts in 2006 and passed on the reins for the group to a committee, which includes Yung-ching's daughter Cher Wang and Yung-tsai's son Wen Yuang Wang. Founder Wang Yung-ching died in 2008 at the age of 91 with an estimated fortune of $5.5 billion, according to Forbes. The business tycoon is survived by his three wives and 10 children.
Cher Wang, 53, the daughter of Yung-ching, has come closest out of all siblings in matching her father's success. Her smartphone company HTC had revenues of $9.8 billion in 2010. Cher and her husband Wen Chi Chen are ranked the richest people in Taiwan by Forbes, with an estimated net worth of $8.8 billion this year.
Photo: Paul Hilton | Bloomberg | Getty Images
9. Ng Family
Country: Singapore
Business: Far East Organization, Sino Group
Estimated net worth: $8.9 billion
The Ng family owns Singapore's largest private property development firm Far East Organization and Hong Kong-based sister company Sino Group. Together, the firms are one of Asia's largest real estate groups with annual revenue of $4.3 billion.
The companies were founded by Ng Teng Fong, who died from a brain hemorrhage in 2010 at the age of 82. Ng was well known for his frugal lifestyle, living in the same home for 30 years even as his wealth grew. After his death, Ng's older son Robert (pictured), 59, took over the reins at Sino Group, while younger son Philip heads the Far East Organization. The firm's presence in Singapore is renowned, with ownership of historical landmarks like the Fullerton Hotel along with 700 other properties. A big chunk of the family's fortune also comes from its five publicly-listed subsidiaries.
In July, reports surfaced that the Far East Organization planned to raise at least $410 million by listing some of its hotel and serviced residence assets in a real estate investment trust (REIT) next year. Singapore's REIT market is the third-largest in the world after Japan and Australia.
Photo: Bank Central Asia | Aman Rahman | AFP | Getty Images
8. Hartono Family
Country: Indonesia
Business: Djarum Group
Estimated net worth: $11 billion
The Hartono family is the richest family in Indonesia and owners of one of the world's biggest clove-flavored cigarette makers — Djarum Group. The group also has a majority stake in one of the country's biggest banks — Bank Central Asia, from which the family gets the bulk of their fortune.
Brothers Robert Budi Hartono and Michael Bambang Hartono inherited their wealth from their Chinese father Oei Wie Gwan, who founded Djarum in 1951. After his death in 1963, the brothers took over the business, invested in research and development, and began exporting cigarettes almost 10 years later. The company's tobacco products accounted for 97 percent of the U.S. clove cigarette market in 2009, before the Obama administration banned the sale of flavored cigarettes other than menthol, because critics claimed they appealed to teenagers.
Robert Budi Hartono's son Armand Wahyudi (pictured) is also involved in the family business and has been the director of Bank Central Asia since 2009. With the recent market volatility, the Hartono family's wealth has also shrunk. In the two weeks to Oct. 5, Robert Budi saw his wealth drop by 8 percent to $10.5 billion, according to newspaper reports in Indonesia.
Photo: Getty Images
7. Lee Kun Hee & family
Country: South Korea
Business: Samsung Group
Estimated net worth: $11.6 billion
Lee Kun Hee (pictured) is the chairman of Samsung Electronics, the flagship company of the Samsung Group, South Korea's biggest business conglomerate with nearly 70 affiliates. The group accounts for about one fifth of the country's GDP.
The Samsung Group was founded by Lee Kun Hee's father Lee Byung Chull in 1938. Kun Hee, the third son, became chairman of the firm after his father's death in 1987. He's been credited with turning the company into a major global player in the technology industry. Samsung Electronics is now the world's biggest chipmaker, the second biggest smartphone maker after Apple, and competes with Hewlett Packard for the title of the world's largest technology firm by revenue. Other family members in the business include Kun Hee's only son and heir apparent, Jay Y. Lee, who is president of Samsung Electronics, and daughter Lee Boo Jin, who is the senior vice president of the group's luxury hotel chain — Shilla Hotels and Resorts.
But as head of the group, Lee Kun Hee has also faced a string of controversies in recent years. The 69-year-old was convicted of tax evasion and breach of trust in 2008 and given a three-year prison sentence, but was later pardoned by the country's President in 2009. During that period he stepped away from the company for two years and returned in 2010.
Photo: Grischa Rueschendorf | Bloomberg | Getty Images
6. Kuok Family
Country: Malaysia, Singapore
Business: Kuok Group
Estimated net worth: $16.1 billion
The Kuok family is the richest family in Southeast Asia, and owners of the Kuok Group — one of Asia's most diversified firms with interests in agriculture, real estate, and financial services, to name a few.
The Malaysian group was founded in 1949 by the three Kuok brothers, the youngest of whom is Robert Kuok (pictured), now 88. Starting out in agricultural trading, the group expanded to Singapore in 1952, and then went on to open operations in Thailand, Indonesia, Hong Kong and China. Robert's son Khoon Chen, 57, is the executive director of Kuok Group and its subsidiary Kerry Properties, Hong Kong's largest property development firm. His younger son Khoon Ean, 56, is the chairman of hotel chain Shangri-La Asia. However, the family's biggest source of wealth comes from its majority stake in Wilmar International, the world's largest publicly-listed palm oil company. Robert's 61-year-old nephew Khoon Hong is the chairman of Wilmar International.
The palm oil giant has recently recovered after two quarters of poor results in the second half of last year, during which it posted pre-tax losses of more than $200 million from its oil seeds and grains business. The company reported a 56 percent increase in revenue in the three months ending June to $10.6 billion, compared to a year ago.
Photo: Adam Ferguson | Bloomberg | Getty Images
5. Sunil Mittal & Family
Country: India
Business: Bharti Group
Estimated net worth: $16.5 billion
Sunil Bharti Mittal is the founder of the Bharti Group, and chairman of flagship firm Bharti Airtel, India's largest mobile phone provider. It's also the world's fifth-largest telecom with over 200 million customers.
Mittal (pictured) founded the group in 1976, at the age of 18, as a bicycle parts manufacturer with less than $500 from his father. The 54-year-old tycoon went on to establish Bharti Telecom, the first company in India to introduce push-button telephones in the 1980s and fax machines and cordless phones a decade later. The group now has interests in retail, financial services and manufacturing, with operations in 19 countries. Brothers Rakesh and Rajan Mittal (pictured) are also involved in the family business as heads of the retail and agriculture operations.
Sunil Mittal's twin sons Kavin and Shravin, 25, have also recently made news by joining the family business. Kavin will head a joint venture with Japanese telecom giant Softbank to develop social media, gaming, and e-commerce businesses in an effort accelerate the spread of mobile internet in India. The country is home to the world's second-biggest mobile phone market with nearly 866 million subscribers.
Photo: Philippe Lopez | AFP | Getty Images
4. Kwok Family
Country: Hong Kong
Business: Sun Hung Kai Properties
Estimated net worth: $22 billion
The Kwok family are the founders of Sun Hung Kai (SHK) Properties — Asia's largest property developer by market value.
The company was founded in 1963 by mainland Chinese businessman Tak Seng Kwok, and partners Fung King Hey and Lee Shau Kee. It was listed on the Hong Kong Stock Exchange in 1972 and soon became one of the top firms on the benchmark by market cap. The firm's market cap now stands at $34.25 billion. Tak Seng died in 1990, leaving the reins of the family business to his wife, Kwong Siu-hing, and their three sons, Raymond (pictured left), Thomas (pictured), and Walter Kwok. The company has continued to do well because of Hong Kong's and China's red-hot property markets. Last month, the group posted a 55 percent rise in underlying profit to $2.75 billion for the year ended June. The group completed construction of Hong Kong's tallest building in 2010 — the International Commerce Center — marking another milestone for the company.
The family has also made headlines with a bitter feud and court battle, which led the eldest son Walter, 66, to step down as chairman of the firm he worked at for 33 years in 2008. His mother Kwong Siu Hing, who is the controlling shareholder of the group, took over the leading role, with younger brothers Thomas and Raymond managing operations.
Photo: Dave M. Benett | Getty Images
3. Lakshmi Narayan Mittal & Family
Country: Non-resident Indian
Business: ArcelorMittal
Estimated net worth: $28 billion
Lakshmi Narayan Mittal is the founder of ArcelorMittal — the world's biggest steel-producing company. Mittal is also considered the sixth-richest man in the world, according to Forbes magazine.
The steel tycoon, 61, founded the company in 1989 as Mittal Steel, parting ways from his India-based family business to venture out on his own. The firm went on to merge with Arcelor in 2006 to form its current conglomerate, based in Luxembourg. Mittal (pictured - left) is the chairman and CEO of the group and owns 40 percent of its shares. Other family members involved in the business include his son and heir apparent Aditya, who is the CFO, while daughter Vanisha (pictured - right) is one of 11 board members.
Vanisha's 2004 wedding to Amit Bhatia (pictured - right) made headlines for its extravagance and is considered the third most expensive wedding in modern times, costing a whopping $60 million. The wedding took place at France's Versailles Palace and the senior Mittal reportedly paid for 1,000 guests to stay one week at five-star hotels in Paris.
The family is continuing to expand globally. ArcelorMittal recently joined forces with U.S. coal giant Peabody to buy a nearly 60 percent stake in the world's biggest coking coal producer Macarthur Coal for $5 billion.
Photo: Thomas Cheng | AFP | Getty Images
2. Li Ka-shing & Family
Country: Hong Kong
Businesses: Cheung Kong, PCCW, Hutchison Whampoa
Estimated net worth: $32 billion
Li Ka-shing is considered one of the most powerful business figures in Asia, and his companies have a total market cap of $92 billion (HKD 710 billion) on the Hong Kong stock exchange.
Starting from humble beginnings, the Chinese business magnate quit school at age 12 and fled from mainland China to Hong Kong with his family in 1928. After working at a plastics company, Ka-shing (pictured - right) started his own plastic manufacturing business at age 22, which is now Cheung Kong Industries — one of Hong Kong's leading real estate investment firms. The business was publicly listed in 1972 and continued to expand, acquiring Hutchison Whampoa and Hong Kong Electric, to name a few. Ka-shing's business is now so diversified that it includes everything from shipping and telecommunications to biotechnology, and operates companies in China, the U.K., and Australia. His two sons, Victor Tzar Kuoi (pictured), 47, and Richard Tzar Kai Li, 44, are leading businessmen in their own right. Victor heads Cheung Kong, Hutichson Whampoa, and KC Life Sciences and is seen as the heir-apparent, while Richard is the chairman of telecommunications firm PCCW.
Eighty-three-year-old Ka-shing's reputation for savvy business deals has earned him the nickname "superman" by local media. In August, the tycoon made headlines by announcing the biggest takeover of a British listed company this year. He agreed to buy utility Northumbrian Water Group for $3.8 billion.
Photo: Bhaskar Paul | The India Today Group | Getty Images
1. Ambani Family
Country: India
Business: Reliance Industries & Reliance Group
Estimated net worth: $37.6 billion
The Ambanis are the richest family in the Asia-Pacific region, and founders of Reliance Industries — India's largest publicly traded company by market cap, at $55.6 billion.
The company was founded by Dhirubhai Hirachand Ambani in 1966 as a textile business and has since grown to have interests in petrochemicals, communications and power. Dhirubhai's tale of humble beginnings from a worker to a business tycoon lifted him to icon status in India. Reliance Industries went public in 1977, selling shares to the public. The company's annual meetings were held in stadiums to accommodate the masses. Following Dhirubhai's death in 2002, his sons Mukesh (pictured - right) and Anil Ambani (pictured) took over the family business, but a feud between the brothers led the group to be divided in 2006. Older brother Mukesh, 54, took over Reliance Industries, which accounts for the group's oil assets, while Anil, 52, is the chairman of Reliance Group, which has interests in telecom, power, and healthcare, to name a few sectors.
No stranger to controversy, the Ambani family made headlines over the past decade for official investigations into its business practices and allegations of corruption. Last month, reports surfaced that federal authorities were examining Anil Ambani's role in an alleged multi-billion-dollar telecom licensing scandal. Mukesh Ambani, meanwhile, has garnered global attention by building the most expensive home in the world, in Mumbai, at a cost of about $1 billion.

Senin, 13 Desember 2010

Sawit & Batu Bara, Sumber Harta Orang Kaya RI

Sawit & Batu Bara, Sumber Harta Orang Kaya RI
Daftar orang kaya versi Forbes ini merefleksikan kekayaan keluarga, bukan harta individu.
Sabtu, 4 Desember 2010, 00:08 WIB
Hadi Suprapto
VIVAnews - Forbes kembali merilis daftar kekayaan orang-orang super kaya Indonesia. Sebanyak 40 warga Indonesia memiliki kekayaan sebanyak US$71 miliar atau Rp640 triliun.

Menariknya, sekitar 16 orang atau 40 persen dari mereka mengumpulkan kekayaan dari sumber daya alam, terutama batu bara dan kelapa sawit. Total nilainya mencapai US$12 miliar. "Peningkatan harga saham dan komoditas menjadi salah satu pendongkrak kekayaan mereka," tulis Forbes.
Forbes menghitung penghasilan menggunakan nilai saham per 15 November dan nilai tukar saat itu. Perusahaan swasta dinilai dengan membandingkan dengan perusahaan BUMN yang setara. Daftar orang kaya versi Forbes ini merefleksikan kekayaan keluarga, bukan harta individu.

Dari hasil perhitungan Forbes, sejumlah nama besar masuk jajaran taipan kaya yang mendapatkan berkah dari kekayaan sumber alam Indonesia. Sebagian dari mereka malah sudah lama berkecimpung di bisnis komoditas, baik kelapa sawit dan batu bara. Berikut beberapa di antara mereka.
Eka Tjipta Widjaja, taipan gaek berusia 87,  merupakan salah satu pengusaha yang menikmati keuntungan dari lonjakan kelapa sawit. Eka Tjipta WidjajaBisnisnya dikendalikan melalui PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) dengan produk andalan minyak goreng Filma. SMART memiliki perkebunan sawit terluas, lebih dari 320 ribu hektar.

Eka Tjipta berhasil menempati peringkat ketiga orang terkaya Indonesia dengan total US$6 miliar. Kekayaan ini melambung dari tahun sebelumnya yang hanya US$3,6 miliar.

Namun, kekayaan Eka Tjipta sebenarnya tidak hanya dari kelapa sawit. Bisnis pengusaha yang besar di zaman Orde Baru ini menggurita dari bubur kertas, properti, hingga ke perbankan. Eka Tjipta mengendalikan usahanya melalui empat grup, yaitu Asia Pulp & Paper Group, PT Sinar Mas Multi Artha Tbk, Asia Food & Properties Limited, dan SMART.

Martua SitorusKelapa sawit juga telah membuat Martua Sitorus kaya raya. Melalui bendera Wilmar International, Martua berhasil mengumpulkan kekayaan sebesar US$3,2 miliar. Sehingga berhasil menduduki peringkat keempat.

Perkebunan kelapa sawit terbentang di Sumatera dan Kalimantan dengan luas lahan 210 ribu hektar. Pria keturunan Batak ini memilih mengendalikan bisnisnya dari Singapura dengan produk andalan minyak goreng Sania.

Bos Grup Salim, Anthoni Salim, juga salah satu taipan yang merasakan gurihnya minyak sawit alias CPO. Salim memiliki lahan sawit melalui Indo Agri Bdan PT PP London Sumatra Tbk. Produknya yang paling terkenal adalah Bimoli.

Kekayaan sebesar US$3 miliar menempatkan Anthoni pada peringkat kelima. Kekayaan ini sebenarnya tidak murni dari kelapa sawit. Salim lebih banyak mendapat keuntungan dari mi instan Indomie.

Putera Sampoerna juga mencoba keberuntungan di sektor ini. Melalui Sampoerna Agro yang dikendalikan anaknya, Michael Sampoerna, ia menguasai sejumlah kebun kelapa sawit.

Meski gaung taipan, yang kaya dari penjualan perusahaan rokoknya, itu belum terlihat, Putera Sampoerna telah memiliki kekayaan US$2,3 miliar dan menempatkan pada peringkat kesembilan.
Aburizal Bakrie di Dewan PersAburizal Bakrie juga mendapat keuntungan dari kelapa sawit dan batu bara. Bisnis batu bara dikelola melalui PT Bumi Resources Tbk sedangkan kelapa sawitnya melalui PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.
Keluarga Bakrie kini memiliki kekayaan US$2,10 miliar dan menduduki peringkat 10. Setelah Aburizal menjadi pejabat pemerintah dan masuk dunia politik, saudaranya, Nirwan D. Bakrie, yang mengelola bisnis keluarga.

Kiki BarkiNama baru yang menikmati keuntungan dari hasil tambang batu bara adalah Kiki Barki. Pendatang baru di deretan orang terkaya Indonesia ini mengendalikan perusahaannya melalui  PT Harum Energy Tbk.

Kiki yang kini berusia 71 tahun mengoleksi kekayaan senilai US$1,7 miliar, dan menduduki peringkat ke-11. Melalui bisnisnya di industri tambang batu bara, Kiki sukses membawa Harum Energy mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada awal Oktober 2010.

Saat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dengan melepas 500 juta saham pada harga Rp5.200 per unit, perseroan mampu meraup dana segar Rp1,04 triliun. Harum Energy yang merupakan perusahaan grup Tanito Coal itu kini masuk salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia.

Edwin SoeryadjayaEdwin Soeryadjaya juga berhasil mengumpulkan kekayaan dari batu bara. Melalui Adaro Energy, Edwin berhasil mengumpulkan kekayaan US$1,6 miliar dan berada pada peringkat ke-13.

Kepemilikan di Adaro tidak secara langsung, melainkan melalui perusahaan ekuitas pribadi, Saratoga Capital. Lewat Saratoga juga, Edwin mengendalikan perusahaan infrastruktur telekomunikasi, PT Infrastruktur Menara Bersama.

Jumat, 19 November 2010

Air PDAM Kabupaten Tangerang Mengandung Timbal

>Sabtu, 2 Desember 2000

Air PDAM Kabupaten Tangerang Mengandung Timbal
Tangerang, Kompas

Air Bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten
Tangerang, yang dialirkan ke sejumlah rumah pelanggan di sekitar
PT Tasuma Jaya di Kampung Cimone Jaya, Pabuaran, Kota
Tangerang, diketahui mengandung zat kimia berbahaya yakni timbel
(Pb). Kandungan logam berat berbahaya pada air itu, ditemukan
dalam penelitian yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
Jakarta, Departemen Kesehatan, pada 4 September 2000. Dari
penelitian itu diketahui, kandungan timbel pada air PDAM seberat
0,040 miligram (mg) per liter.

"Kandungan timbel di air yang diteliti itu masih di bawah nilai ambang
batas (NAB) berbahaya yakni sebanyak 0,050 mg/liter. Namun kalau
terus menerus dikonsumsi, air itu memang dapat membahayakan
kesehatan penggunanya," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota
Tangerang, Nuriman Mahjudin, di ruang kerjanya, Jumat (1/12).

Di tempat terpisah, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Daerah (Bapedalda) Kota Tangerang, Moch Harun, juga
mengungkapkan adanya kandungan timbel dalam air PDAM
Kabupaten Tangerang, yang diteliti dari rumah warga di sekitar PT
Tasuma Jaya, Jl Merdeka, Kota Tangerang.

Menurut Harun, penelitian dilakukan tim dari Departemen Kesehatan
berkaitan dengan ditemukannya penimbunan limbah kaus lampu
petromaks di kawasan pabrik PT Tasuma Jaya, akhir Juli 2000.
Limbah itu diduga mengandung radioaktif. Departemen Kesehatan
ketika itu meneliti air PDAM, sumur, selokan, dan lainnya. "Timbel di
antaranya dapat menimbulkan kerusakan pada otak dan paru-paru,"
kata Harun.

Selain ditemukannya timbel dalam air PDAM, penelitian itu juga
menemukan kandungan mikroba E-coli sebanyak 330 mg/liter dari
salah satu sumur warga. Namun menurut Nuriman Mahjudin,
meskipun kandungan E-coli tinggi warga setempat nyaris tidak
pernah ada yang terserang penyakit kolera. "Kalau air sumur itu tidak
untuk digunakan minum dan memasak, ya tidak apa-apa. Kalau
untuk mencuci, air itu aman digunakan," ujarnya.

Penyebab timbel

Berkaitan dengan ditemukannya kandungan timbel pada air PDAM,
Moch Harun telah melayangkan surat ke Dirut PDAM Kabupaten
Tangerang untuk klarifikasi. Mengenai penyebab terdapatnya timbel
di dalam air bersih PDAM Kabupaten Tangerang itu, Harun belum
bisa memastikannya.

Namun dia menduga, adanya timbel itu bisa saja akibat terjadi
pengeroposan pada pipa saluran airnya. Akibatnya air bersih PDAM
yang mengalir di dalam pipa, bercampur dengan timbel dari pipa
keropos.

"Untuk mengetahui lebih jauh tentang penyebab terdapatnya timbel
pada air PDAM, perlu segera dilakukan penelitian, termasuk pada
pipa-pipa penyalur air bersih ke kawasan Cimone Jaya," ujar Harun.
Penyaluran air PDAM Kabupaten Tangerang ke rumah-rumah warga
di sekitar PT Tasuma Jaya, mulai dilakukan pada 1994. Penyaluran
air bersih dilakukan, karena saat itu sejumlah sumur warga setempat
tercemar dan terasa pahit.

Direktur PDAM Kabupaten Tangerang, Dadan Hendra Sambas, tidak
dapat dikonfirmasi tentang adanya kandungan timbel di dalam air
warga di sekitar PT Tasuma Jaya. Ketika dihubungi melalui telepon
selularnya pada Jumat pukul 18.35, Dadan tidak menjawabnya.
(mul)

Seputar Industri Besi dan Baja

Berita Seputar Industri Besi dan Baja
VIVAnews - Saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) tercatat telah mengalami pelemahan harga dalam dua hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada Kamis 18 November 2010, harga saham terkoreksi Rp10 atau 0,77 persen menjadi Rp1.280 dan sempat menyentuh level terendah Rp1.270. Sementara itu, pada Selasa 16 November 2010, harga saham perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara itu turun Rp10 (0,76 persen) ke level Rp1.290, dengan posisi terendah Rp1.280.

Bahkan pada Jumat lalu, 12 November 2010, saham Krakatau juga melemah Rp60 (4,47 persen) di posisi Rp1.250. Namun, dibanding harga penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sebesar Rp850, hingga penutupan Kamis kemarin di level Rp1.270, saham perusahaan baja pelat merah itu masih menguat Rp430 atau 50,59 persen.

PT Timah Targetkan Produksi 60 Ribu Ton

PT Timah Targetkan Produksi 60 Ribu Ton


Pangkalpinang (ANTARA) - PT Timah Tbk Provinsi Bangka Belitung menargetkan produksi 60 ribu ton selama 2010 atau meningkat dibanding produksi 2009 yang tercatat 50 ribu ton.
"Target maksimal produksi pada 2010 sebesar 60 ribu ton, jika tercapai 45 ribu ton saja sudah merupakan hasil yang cukup bagus jika melihat kondisi sekarang," kata Bagian Humas PT Timah Tbk Babel Wirtza Firdaus di Pangkalpinang, Jumat.
Menurut dia, PT Timah memiliki sejumlah kapal keruk untuk memproduksi biji timah di laut namun operasionalnya tergantung pada kondisi cuaca.
"Kondisi cuaca sekarang cukup ekstrem sehingga menjadi hambatan dalam menjalankan aktivitas pengerukan timah di laut," ujarnya.
Ia mengatakan, ada kapal keruk yang tidak bisa beroperasi karena gelombang tinggi dan angin kencang sehingga menjadi kendala dalam memenuhi target produksi.
"Namun demikian, kami optimistis target produksi bisa tercapai hingga akhir tahun atau setidaknya produksi pada 2010 mencapai 45 ribu ton," ujarnya.
Ia juga menjelaskan, ekspor timah pada 2009 sebesar 120 ribu ton yang berasal dari PT Timah, Kobatin dan sejumlah perusahaan smelter (perusahaan biji timah) lainnya.
"PT Timah pada 2009 memproduksi sebanyak 50 ribu ton, PT Kobatin sebesar 10 ribu ton sementara perusahaan smelter lainnya mencapai 60 ribu ton," ujarnya.
Ia mengatakan, PT Timah memiliki wilayah kuasa penambangan (KP) terbesar dibanding dengan perusahaan pertambangan lainnya yaitu seluas 140 ribu hektare.
"PT Timah memiliki KP seluas 450 ribu hektare, sementara Kobatin seluas 80 ribu hektare dan perusahaan smelter lainnya sekitar 10 ribu hektare," ujarnya.

Tidak ada rekomendasi

Senin, 01 November 2010

Pabrik Mangan Senilai 500 M di Bangun di Kupang

Pabrik Mangan Senilai 500 M di Bangun di Kupang

September 21, 2010
No comment
Proyek pembangunan sebuah pabrik pengolahan mangan dimulai pada hari Sabtu (18/9) yang lalu di Kupang, NTT, tepatnya di Dusun Bijaisahan, Desa Tuapanaf.
pabrik-manganPabrik mangan yang akan menghabiskan investasi sebesar 500 M tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 2 hektar. Tahap pertama pembangunan pabrik baru tersebut direncanakan akan rampung enam bulan mendatang, untuk memproduksi MnO2, yang akan disalurkan untuk pabrik-pabrik kimia.
Sedangkan tahap kedua pembangunan pabrik akan rampung 2 tahun kemudian, dan diharapkan pabrik sudah dapat memproduksi mangan aktif untuk memenuhi kebutuhan pabrik baterai. Tahap ketiga diharapkan akan dapat diselesaikan dalam jangka waktu 3-5 tahun dan pabrik akan mulai dapat memproduksi produk mangan berteknologi tinggi.
Pemerintah daerah setempat mengharapkan kehadiran pabrik baru mangan tersebut dapat memberikan dampak positif pada ekonomi daerah, khususnya daerah sekitar di mana pabrik beroperasi. (pos-kupang.com)