Masa kecil Jokowi bukanlah orang yang berkecukupan, bukanlah orang
kaya. Ia anak tukang kayu, nama bapaknya Noto Mihardjo, hidupnya amat
prihatin, dia besar di sekitar Bantaran Sungai. Ia tau bagaimana menjadi
orang miskin dalam artian yang sebenarnya.
Bapaknya penjual kayu
di pinggir jalan, sering juga menggotong kayu gergajian. Ia sering ke
pasar, pasar tradisional dan berdagang apa saja waktu kecil. Ia melihat
dengan mata kepala sendiri bagaimana pedagang dikejar-kejar aparat,
diusiri tanpa rasa kemanusiaan, pedagang ketakutan untuk berdagang. Ia
prihatin, ia merasa sedih kenapa kota tak ramah pada manusia.
Sewaktu SD ia berdagang apa saja untuk dikumpulkan biaya sekolah, ia
mandiri sejak kecil tak ingin menyusahkan bapaknya yang tukang kayu itu.
Ia mengumpulkan uang receh demi receh dan ia celengi di tabungan ayam
yang terbuat dari gerabah. Kadang ia juga mengojek payung, membantu
ibu-ibu membawa belanjaan, ia jadi kuli panggul. Sejak kecil ia tau
bagaimana susahnya menjadi rakyat, tapi disini ia menemukan sisi
kegembiraannya.
Ia sekolah tidak dengan sepeda, tapi jalan kaki.
Ia sering melihat suasana kota, di umur 12 tahun dia belajar menggergaji
kayu, tangannya pernah terluka saat menggergaji, tapi ia senang dan ia
gembira menjalani kehidupan itu, baginya “Luwih becik rengeng-rengeng
dodol dawet, tinimbang numpak mercy mbrebes mili”. Keahliannya
menggergaji kayu inilah yang kemudian membawanya ingin memahami ilmu
tentang kayu.
Lalu ia berangkat ke Yogyakarta, ia diterima di
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, jurusan kehutanan. Ia
pelajari dengan tekun struktur kayu dan bagaimana pemanfaatannya serta
teknologinya. Di masa kuliah ia jalani dengan amat prihatin, karena tak
ada biaya hidup yang cukup. Kuliahnya disambi dengan kerja sana sini
untuk biaya makan, ia sampai lima kali indekost karena tak mampu biaya
kost dan mencari yang lebih murah.
Hidup dengan prihatin
membawanya pada situasi disiplin, Jokowi mampu menerjemahkan kehidupan
prihatinnya lewat bahasa kemanusiaan, bahwa dalam kondisi susah orang
akan menghargai tindakan-tindak an manusiawi, disinilah Jokowi belajar
untuk rendah hati.
Setamat kuliah ia tetap menjadi tukang gergaji
kayu, tapi ia sudah memiliki wawasan, ia melihat industri kayu
berkembang pesat, ia mendalami mebel. Disini ia pertaruhkan segalanya,
rumah kecil satu-satunya bapaknya ia jaminkan ke Bank. Dan ia berhasil,
ia bukan saja tapi ia juga pengambil resiko yang cerdas, ia berhasil
dari sebuah bengkel mebel dengan gedek disamping pasar yang kumuh
berhasil dikembangkan. Ia menangis ketika pekerja-pekerja nya bisa
makan.
Suatu saat ia kedatangan orang Jerman bernama Micl
Romaknan, orang Jerman ini kebetulan tidak membawa grader (ahli nilai)
kayu, ia ngobrol dengan Jokowi, kata orang Jerman itu : “Wah, di Jepara
saya ketemu orang namanya Joko, baiklah kamu kunamakan saja Djokowi, kan
mirip Djokovich” akhirnya terciptalah sebuah nickname Jokowi yang
melegenda itu.
Perkembangan bisnisnya bagus, ia dipercaya kerna
ia jujur, orang Jerman suka dengan orang yang jujur dan pekerja keras,
Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, selebihnya adalah kerja. Ia tak pernah
makan uang dari memeras atau pungli, ia makan dari keringatnya sendiri.
Dengan begitu hidupnya berkah. Jokowi berhasil mengekspor mebel puluhan
kontainer dan ia berjalan-jalan di Eropa.
Tidak seperti
kebanyakan orang Indonesia yang mengunjungi Eropa dengan cara hura-hura
atau foto sana, foto sini tanpa memahami hakikat masyarakatnya. Jokowi
di Eropa berpikir reflektif. “Kenapa kota-kota di Eropa, kok sangat
manusiawi, sangat tinggi kualitasnya baik kualitas penghargaan terhadap
ruang gerak masyarakat sampai dengan kualitas terhadap lingkungan” lama
ia merenung ini, akhirnya ia menemukan jawabannya “Ruang Kota dibangun
dengan Bahasa Kemanusiaan, Bahasa Kerja dan Bahasa Kejujuran”. Tiga cara
itulah yang kemudian dikembangkan setelah ia menduduki jabatan di Solo.
Setelah sukses di bisnis, Jokowi berpikir “Bagaimana ia bisa berterima
kasih pada bangsanya” lalu ia mendapatkan jawabannya, bahwa contoh
terbaik untuk berterima kasih adalah menjadi pemimpin rakyat yang
bertanggung jawab. Lalu ia masuk ke dalam dunia politik dengan seluruh
rasa tanggung jawab. Pertanggung jawaban politiknya adalah
pertanggungjawa ban moral bukan karena ia mencari hidup dalam dunia
politik, ia ikhlas dalam bekerja, baginya inilah cara berterima kasih
pada bangsanya.
Ia masuk ke dalam dunia politik, awalnya tidak
dipercaya, karena sosoknya lebih mirip tukang becak alun-alun kidul
tinimbang seorang gagah yang hebat, dalam masyarakat kita, sosok dengan
‘bleger’ yang besar lebih diambil hati ketimbang orang dengan sosok
kurus, ceking dan tak berwibawa itulah yang dialami Jokowi, tapi
beruntung bagi Jokowi, saat itu masyarakat Solo sedang bosan dengan
pemimpin lama yang itu itu saja, mereka mencoba sesuatu yang baru.
Akhirnya Jokowi menang tipis.
Masyarakat mempercayainya dan ia
menjawabnya dengan “Kerja” ia siang malam bekerja untuk kotanya, ia
datangi tanpa lelah rakyatnya, ia resmikan gapura-gapura pinggir jalan,
ia hadir pada selamatan-selam atan kecil, ia terus diundang bahkan untuk
meresmikan pos ronda sebuah RW sekalipun. Ia bekerja dari akarnya
sehingga ia mengerti anatomi masyarakat.
Suatu hari Jokowi
didatangi Kepala Satpol PP. Kepala Satpol itu meminta pistol karena ada
perintah pemberian senjata dari Mendagri. Jokowi meradang dan menggebrak
meja “Gila apa aku menembaki rakyatku sendiri, memukuli rakyatku
sendiri…keluar kamu…!!” kepala Satpol PP itupun dipecat dan diganti
dengan seorang perempuan, pesan Jokowi pada kepala Satpol PP perempuan
itu “Kerjalan dengan bahasa cinta, kerna itu yang diinginkan setiap
orang terhadap dirinya, cinta akan membawa pertanggungjawa ban,
masyarakat akan disiplin sendiri jika ia sudah mengenal bagaimana ia
mencintai dirinya, lingkungan dan Tuhan. Dari hal-hal inilah Jokowi
membangun kota-nya, membangun Solo dengan bahasa cinta….”.
Apakah
di Jakarta ia tak bakalan mampu? banyak yang nyinyir bahwa Solo bukan
Jakarta. Tapi apa kata Jokowi “Hidup adalah tantangan, jangan dengarkan
omongan orang, yang penting kerja, kerja dan kerja. Kerja akan
menghasilkan sesuatu, sementara omongan hanya menghasilkan alasan”
Jokowi berangkat dalam alam paling realistisnya. Kepemimpinan yang
realistis, bertanggungjawa b dan kredibel. Beruntung Indonesia masih
memiliki Jokowi, pada Jokowi : “Merah Putih ada harapan berkibar kembali
dengan rasa hormat dan bermartabat sebagai bangsa.
LATAR BELAKANG BERDIRI PERUSAHAAN
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| NEW PRODUCT |
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Jokowi. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 April 2014
Selasa, 04 Maret 2014
Jokowi Jangan Urusi Sampah Orang Kaya
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo diharapkan tidak lagi mengurusi
sampah di pemukiman-pemukiman elit dan mewah di Jakarta. Pasalnya,
dengan Perda Nomor 3 Tahun 2013 tentang pengelolaan sampah yang
mewajibkan kawasan khusus seperti industri, mall, apartemen, hotel,
hingga pemukiman mewah mengurus sampahnya sendiri.
“Jadi pak Jokowi hanya urusi sampah kawasan pemukiman menengah bawah, pemukiman elit harus bawa sampahnya sendiri ke Bantargebang,” ujarnya, di Jakarta, Senin (17/2/2014).
Saat ini sejumlah perusahaan jasa kebersihan membentuk organisasi Asosiasi Jakarta Bersih (AJB) sebagai wadah. Pembina AJB, Amir Sagala mengatakan, AJB menjalankan konsep B to B dan tidak ada kaitan dengan pemerintah sama sekali, termasuk tidak menggunakan APBD.
Justru pihak swasta mengeluarkan uang untuk membayar retribusi ke Pemprov DKI Jakarta. Pihak swasta juga tetap menggunakan TPST Bantargebang sebagai tempat pembuangan. Sehingga mereka juga membayar tipping fee kepada pengelola TPST Bantergebang.
Saat ini, lanjutnya, AJB sudah terbentuk dan telah memiliki tenaga SDM serta sarana dan prasarana yang layak. Asosiasi ini akan melayani daerah-daerah mandiri dan kawasan usaha atau pabrik.
“Kita sedang sosialisasi terus, seperti daerah Pluit, kita tawarkan kepada pemukiman mewah di sana Rp 114.000 per bulan,” tuturnya.
Kepala Bagian Pengembangan dan Operasional AJB, Julius Wibowo menambahkan, pihaknya menghitung biaya yang dibebankan ke konsumen berdasarkan operasional pengangkutan sampah, retribusi daerah, dan juga tipping fee ke Bantargebang.
“Total biaya tipping fee dan retribusi saja mencapai 31 persen, sedangkan keuntungan kita hanya sekitar 15 persen,” ujarnya.
Julius menjelaskan, Pemprov DKI Jakarta menetapkan biaya pengangkutan sampah B to B sebesar RP 500.000 hingga RP 1 juta per ton. Angka ini masih lebih murah dibandingkan di Singapura dan Malaysia.
(Ahmad Sabran)
Senin, 03 Maret 2014
Direstui Capres, Jokowi Bilang Tanya ke Bu Mega
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur DKI
Jakarta Joko Widodo enggan menjelaskan mengenai kabar bahwa Ketua Umum
PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri telah merestui dirinya menjadi
calon presiden.
Jokowi pun mengaku hingga kini dirinya belum mendengar langsung dari Megawati mengenai restu untuk ikut dalam memperebutkan kursi RI 1 dalam Pemilihan Presiden 2014 pada bulan Juli mendatang.
"Belum. Kalau itu tolong tanyakan ke beliau (Megawati). Yang punya kewenangan beliau," kata mantan Walikota Solo ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, tersiar kabar bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri telah merestui Joko Widodo sebagai calon presiden sejak dua pekan lalu.
Selasa, 01 Oktober 2013
Melongok Lobi Meja Makan Ala Jokowi
TEMPO.CO , Jakarta--Sekitar 13 orang duduk melingkar di meja makan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo.
Perwakilan warga Penjaringan, Jakarta Utara akan mengutarakan
unek-uneknya dalam soal relokasi Waduk Pluit, Selasa 21 Mei 2013 lalu.
Agenda siang itu adalah satu, Jokowi ingin mendengar curhat warga soal relokasi Waduk Pluit. Makan siang dengan menu berbagai macam masakan laut ini terbukti sukses meluluhkan warga.
Buktinya, Waduk Pluit, Jakarta Utara, sekarang bersalin rupa. Waduk yang dulunya dipenuhi pemukiman kumuh sekarang menjadi ruang terbuka dengan segala fasilitasnya.
Lobi meja makan yang dilakukan Mantan Wali Kota Solo ini memang bukan hal baru. Di kota asalnya tersebut dia juga mengajak pedagang kaki lima makan untuk mendengarkan unek-unek mereka.
Hasilnya, PKL di Solo bisa ditertibkan dengan lancar. Di Jakarta cerita kesuksesan lobi meja makan berlanjut saat akan memindahkan Pedagang Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang awalnya momok macet bagi warga Jakarta sekarang bisa dibilang tertib tanpa PKL dipinggir jalan.
Cerita serupa yang paling mutakhir adalah pemidahan warga di Waduk Ria-Rio. Penduduk yang awalnya sempat melakukan aksi walk out saat akan pengundian rumah susun sewa sekarang luluh. Bahkan banyak warga berebut mendaftar di rusunawa.
Rekan kerjanya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta menilai lobi meja makan menjadi keahlian Jokowi. "Saya apresiasi langkah Jokowi, dia memang jago urusan seperti ini," kata Ketua Fraksi Hanura-Partai Damai Sejahtera Fahmi Zulfikar ketika dihubungi pada Senin, 30 September 2013.
Menurut Fahmi, Jokowi tahu bagaimana cara meluluhkan hati warga. Makan satu meja dengan Gubernur adalah salah satunya. Hal ini merupakan kejadian yang sangat jarang bagi masyarakat.
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro berpendapat komunikasi Jokowi dengan warga lah kunci keberhasilannya. Menurut dia, gaya bahasa Jokowi memiliki kesan yang melekat di warga.
"Sekarang ini memang eranya pemimpin yang bisa berkomunikasi dengan masyarakat," ujarnya. Jokowi, menurut dia, mampu menempatkan diri pada posisi seorang pendengar yang setia.
SYAILENDRA
Sabtu, 07 September 2013
Megawati: Saya Rasakan Jokowi Dapat Getaran Soekarno
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum
PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri blak-blakan dirinya tidak pantas
disebut sebagai Ibu Bangsa. Nama itu tepat ditujukan kepada Bung Karno,
sebagai Bapak Bangsa, yang kemudian dirasakan ada pada diri Jokowi.
Sebelumnya, Megawati bercerita dirinya membaca ulasan di surat kabar. Ia terhenyak ketika dirinya disebut sebagai Ibu Bangsa. Secara pribadi, dirinya tersenyum dengan sebutan itu tapi melihat penghormatan terlalu dini ditaruh di pundaknya.
"Status itu lebih pantas disematkan kepada proklamtor kita Bung Karno. Saya ajak untuk merenung sejenak, bagaimana nasib Bung Karno. Saya rasa Pak Jokowi mendapatkan getaran itu," katanya lagi.
Megawati Tunjuk Jokowi Bacakan Dedication of Life
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam Rapat
Kerja Nasional III PDI Perjuangan di Econvention Hall, Ancol, Jakarta,
Jumat (6/9/2013), Jokowi didapuk sebagai pembaca Dedication of Life yang
pernah dibacakan Bapak Bangsa, Soekarno pada 10 September 1966.
"Untuk membaca Dedication of Life Bung Karno adalah Pak Jokowi. Katakan itu sebuah makna, sebuah regenerasi secara alami itu pasti berlanjut," ujar Megawati sebelum memberikan pidato politiknya. Alasan Megawati ini langsung disambut tepuk kader PDI Perjuangan.
Mendengar tepuk terus menggema, Megawati meminta berhenti. Ia mengaku, regenerasi terjadi di seluruh kader PDI Perjuangan dan itu sudah menjadi hukum alam. Pelajaran itu ia ambil dari Soekarno bahwa regenerasi adalah nature, alam yang terus berubah.
"Kalau Bung Karno bilang itu nature, alam. Jadi memang kalau kita melaksanakan hal itu, yang mengikuti rakernas harus menyadari, Bung Karno mengatakan tidak ada dalam pikiran beliau mau mengatakan sebagai presiden seumur hidup," ungkapnya.
Sebelumnya, suasana hening ketika Jokowi mulai membaca Declaration of Life. Di kiri kanan panggung, foto Soekarno terpampang di atas layar masing-masing berukuran kurang lebih enam kali tujuh meter.
Inilah Dedication of Life karya Soekarno yang dibacakan Jokowi.
Saya adalah manusia biasa. Saya dus tidak sempurna. Sebagai manusia biasa saya tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Hanya kebahagiaanku ialah dalam mengabdi kepada Tuhan, kepada Tanah Air, kepada Bangsa. Itulah Dedication of Life ku.
Jiwa pengabdian inilah yang menjadi falsafaf hidupku, dan menghikmati serta menjadi bekal hidup dalam seluruh gerak hidupku. Tanpa jiwa pengabdian ini saya bukan apa-apa. Akan tetapi dengan jiwa pengabdian ini, saya merasakan hidupku bahagia dan manfaat
Soekarno 10 September 1966.
Pujian Ketua KPK untuk Jokowi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gubernur Jakarta, sekaligus kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), Joko Widodo, mendapat sanjungan, kali ini datang dari Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad.
Hal itu disampaikan Abraham saat menjadi pembicara dalam Rapat Kerja Nasional III PDI Perjuangan di Ecovention, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (7/9/2013). Menurut Abraham, bentuk pelayanan publik yang diterapkan Jokowi bisa dicontoh kepala daerah lain.
"Saya melihat di sini ada Pak Jokowi. Pemerintah DKI Jakarta cukup bagus pelayanannya dan bisa jadi contoh," kata Abraham dalam pidato pengarahannya untuk kader, diikuti tepuk tangan kader PDI Perjuangan yang hadir dalam rakernas.
Bukan saja soal pelayanan, Abraham juga memuji Jokowi yang melaporkan gitar pemberian personel Metalica ke KPK. Aksi Jokowi ini mengingatkan bahwa gratifikasi yang diterima pejabat negara harus dilaporkan kepada KPK.
"Saya mengimbau seluruh kader PDI Perjuangan yang menjadi bupati, gubernur, DPRD Kota dan Propinsi, kalau masih mencintai dan menyayangi Bu Mega, kalian tidak boleh korupsi," kata Abraham memberi nasihat.
Dalam pemaparannya, Abraham menegaskan pihaknya sedang berkonsentrasi pada ketahanan pangan, Sumber Daya Alam dan lingkungan. "Kalau ini tidak dijaga saya khawatir anak cucu kita tidak dapat warisan," ucapnya.
"Ketiga soal pajak. Sektor perenerimaan pajak belum dioptimalisasi. Kita harus mengawasi sektor pajar dan PNBP. Kita harus punya kewajiban memperbaiki sektor ini," katanya lagi.
Dukungan Pencapresan Jokowi Mengalir dari Amerika
TEMPO.CO , Jakarta:Komunitas
Rakyat Indonesia untuk Jokowi mendesak Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan untuk mengusung Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo menjadi
calon presiden. Menurut Ketua Komunitas, Jerry F. Monintja, desakan ini
tak hanya dari masyarakat Indonesia tetapi juga dari luar negeri.
"Dukungan juga dari perwakilan kami, WNI di California, Colorado,
Texas USA, Kanada, London, Belanda, Afrika Selatan, Hong Kong dan Kuala
Lumpur," kata Jerry ketika ditemui saat aksi di depan Rapat Kerja
Nasional PDI Perjuangan, Jumat, 6 September 2013. Dia berjanji siap
memenangkan bila Jokowi jadi calon presiden dari PDI Perjuangan.Jokowi, kata Jerry, sosok yang bersih dari korupsi dan dipercaya oleh rakyat Indonesia. Calon presiden dari partai lain, Jerry merasa apatis dan masa bodoh. Menurut dia, rakyat sudah tak lagi percaya untuk memih wakil rakyat dan pemimpin lain. "Kami meminta Bu Mega berkenan mencalonkan Jokowi," ujar Jerry.
Rakernas III PDI Perjuangan digelar di Ancol, Jakarta Utara, pada tanggal 6-8 September 2013. Acara ini diikuti oleh 501 DPC dan 33 DPD sebagai peserta dan anggota Fraksi PDIP di DPR RI dan kepala daerah yang berasal dari partai berlambang banteng itu.
Dalam Rakernas, setiap daerah diberi kesempatan menyampaikan aspirasi, termasuk mengenai pencalonan presiden pada 2014. Salah satu nama yang beredar untuk dicalonkan adalah Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta.
Selasa, 03 September 2013
Gerindra: Jokowi Tak Perlu Maju Capres
TEMPO.CO , Jakarta:
Partai Gerakan Indonesia Raya mengingatkan Gubernur DKI Jakarta, Joko
Widodo untuk menuntaskan kepemimpinanya sampai 2017. Sekretaris Jenderal
Gerindra, Ahmad Muzani, mengatakan janji memimpin Jakarta Jokowi
dilontarkan dihadapan warga Jakarta selama masa kampanye pemilihan
gubernur/wakil gubernur DKI.
"Jokowi sudah berjanji menjalankan amanah selama lima tahun," kata Muzani di kompleks parlemen Senayan, Selasa, 3 September 2013. Peringatan ini bukan bentuk intervensi pencalonan presiden dari PDI Perjuangan. Muzani hanya mengulangi janji Jokowi yang telah terucap.
Muzani membantah khawatir pencapresan Jokowi dari PDIP akan mempersulit calon yang bakal diusung Gerindra, yakni Prabowo Subianto. Dia tak yakin elektabilitas Prabowo turun bila dihadapkan dengan saingan siapapun.
Muzani menuturkan hubungan antara Gerindra dan PDI Perjuangan masih tetap baik. Dia berharap PDI Perjuangan mendukung pencalonan Prabowo sebagai presiden. "Dulu Prabowo mendukung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Pemilu, sekarang harapannya Mega gantian mendukung Prabowo," ujar Muzani.
Ketua Dewan Pimpinan Pusat, Puan Maharani meminta Gerindra tak khawatir bila PDI Perjuangan menetapkan Jokowi sebagai capres. Dia justru mengkritik permintaan Gerindra pada PDIP supaya mendukung pencapresan Prabowo Subianto. Apalagi itu dikaitkan dengan dukungan Gerindra terhadap pencapresan Megawati Soekarnoputri di Pemilu 2009. Gerindra terkesan melakukan jual-beli dalam setiap keputusan politik.
Puan meminta Gerindra menyelesaikan urusan internal dan tak perlu khawatir pencapresan Jokowi. Alasannya, hingga kini Jokowi masih membenahi Jakarta.
Sabtu, 31 Agustus 2013
PDIP Tidak Akan Lawan Keinginan Rakyat Terkait Jokowi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Popularitas
dan elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai salah satu
kandidat Calon Presiden dalam Pilpres 2014 mendatang terus meningkat.
Terkait hal tersebut Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk
memperkirakan PDI Perjuangan tidak akan melawan keinginan masyarakat
dalam konteks calon presiden yang akan diusung partai berlambang banteng
tersebut.
"Kayaknya tidak mungkin PDIP melawan kehendak publik. Kecil kemungkinannya," ujar Hamdi di Jakarta, Jumat (30/8/2013).Menurut Hamdi, jika PDIP sampai mengambil kebijakan yang bertentangan dengan keinginan masyarakat akan terjadi politik alienation yang justru berpotensi menimbulkan kemarahan warga dan justru merugikan PDIP.
"Itu bahaya karena jika keinginan elit dengan rakyat terlalu jauh, maka massa akan marah. Nah kalau yang marah 40 persen, kalau kata survei, yang memilih Jokowi, apa gak kualat PDIP," tuturnya.
Namun Hamdi yakin PDIP hanya tengah mencari momen yang tepat untuk memutuskan secara resmi mencalonkan Jokowi sebagai Capres mereka.
"Saya agak yakin (PDIP akan calonkan Jokowi), dan bodoh sekali jika PDIP sudah melihat tingkat prevelensi begitu tinggi tapi justru memasang orang lain. Gak mungkinlah," tukasnya.
Ia menyebut ada beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan partai yang menyatakan dirinya sebagai partai wong cilik itu untuk menunda pengumuman pencapresan Jokowi.
"Pertimbangan pertama tentu etika politik, tapi seperti saya katakan kita sebenarnya bisa melihat kualitas seseorang dari kinerjanya selama waktu tertentu, jadi tidak perlu Jokowi membuktikan selama 5 tahun," jelasnya.
Apalagi, lanjutnya, Jokowi juga bisa melakukan hal yang ia terapkan saat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Saat itu Jokowi meminta maaf dan izin dari masyarakat Solo untuk menunaikan tugas yang lebih besar di Jakarta.
Hamdi melanjutkan, alasan kedua kemungkinan adalah PDIP masih menunggu kepastian perolehan suaranya untuk pemilu legislatif. Karena jika mereka dapat meraih perolehan suara lebih dari 20 persen maka akan lebih mudah bagi PDIP untuk menentukan calon presiden.
Alasan ketiga adalah untuk melindungi Jokowi dari serangan dan fitnah-fitnah politik yang potensial muncul jika Jokowi resmi diusung sebagai Capres.
"Jadi jangan sampai nanti Jokowi jadi target serangan politik," katanya.
Langganan:
Postingan (Atom)